Mengapa nilai religius menjadi penting ?
PPKn
Safi03
Pertanyaan
Mengapa nilai religius menjadi penting ?
1 Jawaban
-
1. Jawaban dinna24
Nilai religius bersumber dari agama dan mampu merasuk ke dalam intimitas jiwa. Nilai religius perlu ditanamkan dalam lembaga pendidikan untuk membentuk budaya religius yang mantab dan kuat di lembaga pendidikan tersebut. Di samping itu, penanaman nilai religius ini penting dalam rangka untuk memantabkan etos kerja dan etos ilmiah seluruh civitas akademika yang ada di lembaga pendidikan tersebut. penjelasan macam-macam dari nilai religius:
Nilai Ibadah
Ibadah merupakan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab, yaitu dari masdar ‘abada yang berarti penyembahan. Sedangkan secara istilah berarti khidmat kepada Tuhan, taat mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Jadi ibadah adalah ketaatan manusia kepada Tuhan yang diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari misalnya sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya.
Nilai ibadah perlu ditanamkan kepada diri seorang anak didik, agar anak didik menyadari pentingnya beribadah kepada Allah. bahkan penanaman nilai ibadah tersebut hendaknya dilakukan ketika anak masih kecil dan berumur 7 tahun, yaitu ketika terdapat perintah kepada anak untuk menjalankan shalat. Dalam ayat yang menyatakan tentang shalat misalnya redaksi ayat tersebut memakai lafadh aqim bukan if’al. Penggunaan kata aqim tersebut juga menunjukkan bahwa shalat tidak hanya dilakukan, tetapi nilai shalat wajib diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya kedisiplinan, ketaatan kepada Tuhannya, dan lain sebagainya. Menurut Wahbah Zuhaily, penegakan nilai-nilai shalat dalam kehidupan merupakan manifestasi dari ketaatan kepada Allah. Shalat merupakan komunikasi hamba dan khaliknya, semakin kuat komunikasi tersebut, semakin kukuh keimanannnya.
Sebagai seorang pendidik, guru tidak boleh lepas dari tanggung jawab begitu saja, namun sebagai seorang pendidik hendaknya senantiasa mengawasi anak didiknya dalam melakukan ibadah, karena ibadah tidak hanya ibadah kepada Allah atau ibadah mahdlah saja, namun juga mencakup ibadah terhadap sesama atau ghairu mahdlah. Ibadah di sini tidak hanya terbatas pada menunaikan shalat, puasa,mengeluarkan zakat dan beribadah haji serta mengucapkan syahadat tauhid dan syahadat Rasul, tetapi juga mencakup segala amal, perasaan manusia, selama manusia itu dihadapkan karena Allah SWT.
Untuk membentuk pribadi baik siswa yang memiliki kemampuan akademik dan religius. Penanaman nilai-nilai tersebut sangatlah urgen. Bahkan tidak hanya siswa, guru dan karyawan juga perlu penanaman nilai-nilai ibadah, baik yang terlibat langsung maupun tidak langsung.
Nilai Ruhul Jihad
Ruhul Jihad artinya adalah jiwa yang mendorong manusia untuk bekerja atau berjuang dengan sungguh-sungguh. Hal ini didasari adanya tujuan hidup manusia yaitu hablum minallah, hablum min al-nas dan hablum min al-alam. Dengan adanya komitmen ruhul jihad, maka aktualisasi diri dan unjuk kerja selalu didasari sikap berjuang dan ikhtiar dengan sungguh-sungguh.
Nilai akhlak dan kedisiplinan
Akhlak merupakan bentuk jama’ dari khuluq, artinya perangai, tabiat, rasa malu dan adat kebiasaan. Menurut Quraish Shihab, “Kata akhlak walaupun terambil dari bahasa Arab (yang biasa berartikantabiat, perangai, kebiasaan bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam al Qur’an. “. Yang terdapat dalam al Qur’an adalah kata khuluq,yang merupakan bentuk mufrad dari kata akhlak.
Akhlak adalah kelakuan yang ada pada diri manusia dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu ayat di atas ditunjukkan kepada Nabi Muhammad yang mempunyai kelakuan yang baik dalam kehidupan yang dijalaninya sehari-hari.
Sementara itu dari tinjauan terminologis, terdapat berbagai pengertian antara lain sebagaimana Al Ghazali, yang dikutip oleh Abidin Ibn Rusn, menyatakan: “Akhlak adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan”. Ibn Maskawaih, sebagaimana yang dikutip oleh Zahruddin AR dan Hasanuddin Sinaga, memberikan arti akhlak adalah “keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran (lebih dulu)”. Bachtiar Afandie, sebagaimana yang dikutip oleh Isngadi, menyatakan bahwa “akhlak adalah ukuran segala perbuatan manusia untuk membedakan antara yang baik dan yang tidak baik, benar dan tidak benar, halal dan haram.” Sementara itu Akhyak dalam bukunya Meretas Pendidikan Islam Berbasis Etika, mengatakan, bahwa “akhlak adalah sistem perilaku sehari-hari yang dicerminkan dalam ucapan, sikap dan perbuatan”.
Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah keadaan jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan yang diterapkan dalam perilaku dan sikap sehari-hari. Berarti akhlak adalah cerminan keadaan jiwa seseorang. Apabila akhlaknya baik, maka jiwanya juga baik dan sebaliknya, bila akhlaknya buruk maka jiwanya juga jelek